Senin, 10 Agustus 2015

Seafood Batam nan Mempesona

Share on :




Ternyata apa yang diceritakan oleh keluarga adikku yang sudah lama
mukim di Batam benar adanya. Batam adalah surga bagi para pecinta seafood! ^__^

Ya. Jalan-jalan domestik bersama Garuda Indonesia kali ini mengantarku ke pulau Batam untuk kedua kalinya. Karena waktu tempuh Jakarta-Batam yang hanya  satu jam empat puluh lima menitan, aku serasa masih menginjak bumi Jakarta saat turun di bandara internasional Hang Nadim Batam. Dan baru tersadar dengan realita kala membaca nama taksi-taksi biru di bandara Batam ternyata namanya berbeda dengan taksi-taksi biru bandara di Jakarta. 

Meskipun perjalanan singkat, tapi maskapai Garuda Indonesia tak membiarkan perut penumpangnya kosong. Aku mendapatkan makan gratis tadi di pesawat. Hmm...yummy!
Tapi biarpun sudah makan di pesawat tadi,bukan berarti tujuan utama destinasi impian ke Batam ini akan diabaikan begitu saja tentunya  ;) 

Setelah sampai di rumah mereka dari bandara Hang Nadim, bersama adikku yang sedang hamil tua dan suaminya plus tiga ponakan cowok yang imut dan selalu aktif, kami tumplek blek dalam satu mobil  menuju ke Aviari One 





Aviari One merupakan tempat makan favorit keluarga mereka sejak lama. Juga merupakan tempat makan seafood paling dekat dari rumah mereka. Resto ini juga komplit dengan menu-menunya yang beraneka pilihan.  
Beraneka masakan berbahan dasar ikan, udang, kepiting, ada disini. Bahkan kita bisa memilih sendiri ikan segarnya yang ditata dengan cantiknya di dalam sebuah perahu kayu khusus di malam hari. Sedangkan kepiting-kepitingnya yang masih segar  disimpan di dalam sebuah akuarium kaca.

Aku memutuskan untuk mencoba  makanan yang belum pernah kucoba selama mukim di Jakarta. Namanya sih sederhana saja yaitu sup ikan. Tapi karena dari fotonya aku belum pernah melihat sup ikan yang seperti ini, aku merasa inilah saatnya untuk mencicipi rasanya.
Lagipula  ada anak-anak yang tentu akan dengan senang hati membantuku menghabiskan menu hangat berkuah seperti sup ikan ini. Bismillah! ;) 




"Sluurrp!"
Hmm...
Rasanya lumayan. Kuahnya hangat. Bahan bakunya yang berupa ikan laut segar yang baru ditangkap dari laut, sangat memengaruhi rasa sup ikan ini. Bumbunya sepertinya mengandung bumbu-bumbu khas Tionghoa. Hal itu semakin jelas terlihat dari irisan lobak putih di dalam sup ikan ini.
Sungguh ruarr biasaa! ^__^



Done! Makan sup ikan  telah kumasukkan ke dalam list memorable experiences in Batam.
Namun, ternyata makan sup ikan segar dianggap belum seberapa oleh keluarga adikku.
Keesokan paginya, kamipun kembali tumplek dalam satu mobil. ternya kami menuju ke sebuah kawasan di pinggiran laut bernama Piayu Laut.
Mobil kami diparkir di depan sebuah sekolah dasar yang sedang libur karena hari itu merupakan hari ahad.





Setelah mobil diparkir, kami bersama berjalan kaki menuruni jalanan yang semakin menurun dan berpasir. dibawah sana terlihat atap-atap rumah penduduk. sementara di bagian kiri merupakan tebing yang kami lewati tadi.  
Kami pun tiba di depan beberapa bagunan permanen. Salah satunya memiliki spanduk yang terpasang di bagian atasnya.





Jawa-Melayu, hmm... sepertinya dari merk di atas bisa ditangkap sebuah kesimpulan bahwa bisnis di rumah makan seafood ini  merupakan kolaborasi antara penduduk lokal yaitu suku melayu  dengan pendatang yang suku Jawa. Karena menurut info dari adik ipar, para nelayan yang selesai menangkap ikan, langsung membawa hasil tangkapan mereka ke rumah makan seafood ini.




Kami terus menuju ke bagian belakang bangunan tersebut dan masuk ke dalam sebuah rumah  makan terapung.  Hmm.. tempat-tempat seperti ini sangat familiar dimasa kecil dulu sebagai kedai makan.Mengapa dibilang kedai?
Karena suasananya yang terasa nyaman disebabkan oleh settingan tempat itu sendiri. Lantainya papan dan tidak rapat sehingga terlihat air berwarna kehijauan dibawahnya. 
dindingnya terbuat dari bambu. Tiang-tiang penyangganya juga dari bambu tanpa dicat atau dipernis lagi. sedangkan atapnya yang dibuat agak tinggi terdiri dari lapisan seng yang umum digunakan di daerah sumatera. Sangat bersahaja memberi kesan santai.

Hembusan angin laut menjadi pendingin udara alaminya. Sementara pemandangan indah terbentang di hadapan mata. Ada pulau kecil yang dipenuhi pepohonan kelapa di seberang sana. Speedboat yang melaju dan juga sejumlah perahu tradisional.





Beraneka menu berbahan hasil laut segar pun dipesan langsung ke meja pesanan. Boleh pesan minimal setengah kilogram. Kami pesan dua kilogram bawal, dua kilogram kepiting, siput gonggong, rajungan dan udang. Namun sayang, udang dan rajungan sudah habis dipesan tamu yang datang duluan. Padahal waktu masih menunjukkan jam sembilan pagi!
Meski sedikit kecewa tapi aku senang karena siput gonggong masih ada. Abis, aku sudah lama penasaran ingin menjajal siput laut yang hanya hidup di wilayah laut Kepulauan Riau  itu saja.




Sembari menunggu pesanan kami dimasak, kami menyeruput kelapa muda yang banyak airnya
dan berdaging tipis langsung dari batoknya!
Rasanya? Hmm... segaar! Meskipun tanpa es. Dan rasa air kelapanya beda dengan air kelapa muda yang biasanya saya seruput di tanah Jawa.





"Kalau mau kelapa muda, mereka tinggal petik di sana," Abi menunjuk ke pulau di seberang sana. Pulau kecil yang dipenuhi oleh pepohonan kelapa tadi.
Wow, menyenangkan sekali  membayangkan buah-buah kelapa itu dipetik dan naik perahu ke rumah makan ini. Segerr banget pastinya. Fresh from the coconut tree!                                                                                                                                           
Dan tak lama menunggu, ikan bawal saos asam manis, siput gonggong, kepiting saos pedas, cah kangkung, sayur kailan, akhirnya berdatangan satu demi satu untuk disantap dengan nasi putih pulen hangat. 





Liburan di Batam sungguh  ruarr biasaa! ^__^



Tidak ada komentar:

Posting Komentar