Jumat, 21 Agustus 2015

Lebaran Berkesan dan Selalu Lebih Baik

Share on :

Lebaran merupakan saat-saat full of silaturahim. Namun selalu ada hal-hal yang membuat Lebaran lebih berkesan setiap tahunnya.

Salah satunya adalah karena anak-anak yang bertumbuh besar. Putri sulung kami
sekarang sudah tamat SMA dan bersiap memasuki dunia kerja sambil tetap kuliah. Putri kedua sekarang tak terasa sudah kelas dua SMP. Anak ketiga kami si cowok pertama dalam keluarga sekarang bersiap memasuki tahun akhirnya di sekolah dasar. 

Sedangkan si bungsu semakin bertambah umur juga semakin paham mengenai makna puasa di bulan ramadhan. Alhamdulillah saat usianya menginjak enam tahun lebaran tahun ini, puasanya bisa full satu bulan ramadhan penuh. Inilah beberapa hal yang membuat lebaran tahun 2015 ini semakin berkesan.

  


Seperti biasa, setiap selesai Solat Ied, kami sekeluarga berkeliling di sekitar tempat tinggal kami. Bersalam-salaman dengan para warga yang tidak ikut mudik. Setelah itu kami sekeluarga langsung menuju ke stasiun kereta api untuk menuju ke rumah kakek di Bojong.

Biasanya kami naik kereta api di stasiun Manggarai. Tapi pengalaman tahun lalu, di mana pada  jam delapan pagi stasiun sudah penuh sesak oleh antrian yang mengular hingga keluar stasiun, membuat  suamiku memutuskan untuk naik kereta apinya di stasiun Pasar Minggu saja.

Kami berenam, yang terdiri dari ayah, ibu dan empat anak pun naik Kopaja 62 dulu menuju ke Pasar Minggu dari terminal Manggarai. Setelah sampai di Pasar Minggu,  kami turun di depan stasiun kereta api Pasar Minggu. Ternyata suamiku  benar juga, di stasiun Pasar Minggu antriannya nggak seramai antrian di stasiun Manggarai.

Kami pun bisa mendapat tiket tanpa harus berlama-lama antri. Tak lama menunggu, kereta tujuan 
Bogor pun datang. Kami langsung naik ke atas kereta. Syukurlah kereta api sekarang sudah mengalami perbaikan. Dimana sudah tak ada lagi kereta api kelas ekonomi yang tanpa pendingin ruangan. 

                                       
  

Kereta api sekarang atau lebih dikenal dengan nama commuter line lebih nyaman dan adem. Bahkan penumpang wanita dan pria pun dipisah gerbongnya demi menghindari pelecehan dan hal-hal yang tidak diinginkan lainnya.

Namun  kenyamanan di atas komuter yang sejuk harus terhenti saat kami tiba di stasiun kereta api Bojong. Kami keluar stasiun dan harus berjalan kaki ke rumah kakek. Karena situasinya serba nanggung. Mau nungguin angkot yang lama ngetemnya? Lalu jam berapa sampainya sementara perut udah keroncongan pengen nyobain ketupat lebaran di rumah kakek. Mau naik becak? Gak cukup hanya satu dua becak saja kan? Karena si sulungku badannya lebih gede dari ibunya. Ehemm :D


                                      

Akhirnya kami tiba juga di rumah kakek meski harus berjalan kaki menyusuri jalanan Bojong yang penuh debu karena hujan yang lama belum turun. Alhamdulillah di rumah kakek ademm ^__^

Setelah salam-salaman, ngobrol dan makan ketupat, para cowok pergi  solat Jumat bersama ke masjid. 


                                      

Dan tak lama seusai solat Jumat, setelah nyekar ke makam, kami pun berpamitan karena harus bergegas kembali ke stasiun kereta api demi mengejar kereta api arah Pasar Minggu. Untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Ciputat.

Karena anak-anak keliatan mulai kelelahan, suamiku memutuskan untuk naik taksi saja ke Ciputat dari stasiun Pasar Minggu. Namun apa daya, taksi jarang sekali yang lewat Pasar Minggu. Sekalinya lewat malah menolak kami dengan alasan kebanyakan kalau satu taksi isinya 6 orang. Padahal hanya tiga orang bertubuh dewasa diantara kami dan sisanya anak-anak. 

Tunggu punya tunggu, sebuah mobil pribadi bertuliskan rental/sewa berhenti di hadapan kami. Sepertinya si sopir berpakaian rapi itu tau benar kesulitan kami.Dia menawarkan diri utnuk mengantar kami. Gak punya pilihan karena hari semakin sore, sementara kami juga harus segera silaturahmi ke rumah abangku di Ciputat, kami terpaksa naik kendaraan tersebut. Stelah sebelumnya nego dulu dengan sang sopir dan deal untuk membayar 150 ribu. 

Ealah! Ga taunya si sopir ga tau jalan. Gubrak deh! Kami dibawa ngider-ngider di wilayah Tanjung Barat selama dua jam! Dan akhirnya sampai di Ciputat tepat saat azan Magrib berkumandang. 

Sungguh lebaran yang sangat berkesan, bahkan abangku sekeluarga terkesan karena gak biasanya kami datang saat magrib. Hahaha! 


                                       


Kejadian ini membuat kami harus membuat rencana untuk lebaran tahun depan. Minimal kami harus memiliki sebuah mobil. Tentunya agar kami sekeluarga bisa berkeliling untuk silaturahmi lebaran tanpa harus membuang waktu, dengan menunggu angkutan umum yang sudah jelas jarang ada di hari lebaran di Jakarta. 

Suamiku  bilang dia akan menghubungi temannya yang bekerja di Sunlife Indonesia.  Meminta bantuannya untuk membuatkan perencanaan keuangan agar kami sekeluarga bisa memiliki sebuah mobil saat lebaran tahun depan. Hurray! ^__^





12 komentar:

  1. Aamiin. Semoga harapan mobil untuk tahun depannya tercapai. Gudlak kontesnya, mbak. ^^

    BalasHapus
  2. good luck ya mbak semoga bisa melewati lebaran berkah di tahun depan

    BalasHapus
  3. Makk...tak terasa yaa, tau2 nanti bentar lagi udah mau mantu aja :D
    Semoga rejeki lancar terus & selalu rapi financialnya ya ;)

    BalasHapus
  4. Amiiin ... semoga lebaran tahun depan dengan cerita baru ... mobil baru! Btw, saya suka umahnya kakek, kelihatan vintage, adem dan resik. :)

    BalasHapus
  5. Benar-benar lebaran yang berkesan ya mak.. meski lelah namun bisa berkunjung ke rumah kakek dan saudara itu berkah lebaran untuk silaturrahmi. Moga kesampaian rencana bermobil barunya lebran tahun depan mak.. Aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin yra. makasih doanya mbak ^__^

      Hapus
  6. Allahuma aamiin semoga tahun depan impiannya tercapai yaa bunda... :-)
    hehehe lucu... baca sopirnya ngk tau jalannya :-D

    salam kenal ya mbak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin yra. iya awalnya gregetan juga sama sopinya hehe :D

      Hapus