Minggu, 28 Juni 2015

Si Manis dari Ciseeng

Share on :
 Tanah Ciseeng memang kaya. Siapa menyangka di sini ada manisan pala. Berarti ada pohon pala dong. Kan gak mungkin buah palanya dikirim dari Banda Neira sana :D
Kuliner nostalgia kembali mengharu biru. Jadi ingat saat kecil dulu di kota wisata Bukittinggi ^__^
Setiap pulang ambil uang pensiun, nenekku yang pensiunan kepala sekolah rakyat di zaman kolonial dulu akan mengajak kami mampir di sebuah toko kecil di kampung cina.
Toko ini sangat khas dengan penganan yang ada di dalamnya. Selain cemilan khas tionghoa, juga ada manisan pala. Cemilan kesukaan keluarga kami.
Saat itu manisan pala termasuk makanan langka. Karena selain tak semua orang suka, harganya juga lumayan. Jadi, kami hanya bisa menikmati cemilan kaya khasiat ini sekali sebulan saja, karena jarak rumah dari kampung cinapun tak terlalu dekat.
Dan sungguh tak terduga jika akhirnya setelah merantau sekian lama, kami bertemu salah satu kuliner nostalgia di Ciseeng Parung. Si Manisan Pala ^__^






Saat ditanya pada bapak penjualnya, harganya bener-bener ruarr biasa! Hanya tujuh ribu lima ratus rupiah untuk buah pala yang pake gula. Dikeringin pake oven menurut penjelasan si Bapak. Dan hanya lima ribu rupiah sebungkus untuk manisan pala basah yang terdiri atas tiga pilihan warna.
Jangan khawatir dengan zat pewarnanya karena semuanya merupakan zat pewarna makanan. Saya hanya bisa terkagum-kagum. Bagaiman si Bapak bisa terus menjual dengan santainya ya. Apa ada keuntungan yang didapat dari dagangan semurah itu? Harga gula pasir sekilo aja berapa coba. Sementara buah pala keringnya bertabur gula pasir.
Rezeki itu udah ada yang ngatur, biasanya jawabannya demikian ya. Dan sepertinya memang hal itu saja yang bisa menjelaskan. karena kalau menggunakan logika, aku nggak ngerti gimana ngitung HPP dan BEP ala si Bapak penjual manisan pala :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar