Rabu, 01 Juli 2015

Dia Bilang Alhamdulillah

Share on :

Pada suatu pagi saat saya sedang bersepeda menuju lapak penjual nasi uduk, saya melihat seorang kakek sedang menggelar selembar plastik bening yang sudah lusuh dan keriput. Dia menyusun aneka kepingan CD bekas tanpa pembungkus berjejer di atas hamparan plastik tersebut.
Saat saya mengamati lebih dekat. Melihat  rambut panjang awut-awutan yang dimilikinya serta pakaian lusuh yang mungkin sudah berbulan-bulan dia pakai, saya yakin, itu kakek tua yang selama ini disangka orang gila oleh warga.
Dia sering mangkal di emperan jalan depan SMA sembari memarkir gerobaknya yang penuh barang rombeng. tapi dia bukan penjual barang bekas. Karena saya gak pernah mendengar suaranya berteriak “barang bekas!” seperti para penjual barang bekas lainnya. Dan saya juga tak pernah menangkap ekspresi apapun di wajahnya yang penuh keriput,  kecoklatan dihajar teriknya sinar mentari Jakarta itu.
Makanya saya mengasumsikan dia
termasuk dalam kategori orang yang memiliki masalah kejiwaan.
Jadi, karena dia tak menganggu anak-anak sekitar, maka dia dibiarkan saja berada di sekitar sana oleh warga.




Selama menunggu antrian beli nasi uduk, (bukan hanya di lapak fastfood di mal-mal saja antri, di lapak nasi uduk juga kudu antri..hehe..:D) entah kenapa saya masih kepikiran dengan si kakek tadi. 
Melihat cara dia menata setumpuk kepingan CD bekas itu, lagaknya bagaikan pedagang sungguhan. Apakah memang benar dia tak waras? Saya jadi bertanya-tanya sendiri. Kalau dia memang masih normal, mengapa dia hidup di dalam gerobak? Di mana keluarganya? Mengapa dia hanya sendirian di Jakarta? Demikianlah ciri khas saya keluar lagi dengan kekepoan ala 5W 1 H, namun pertanyaan tersebut tak akan terjawab kalau tak dicari jawabannya kan? Tapi saya rada gentar juga kalau harus bertanya jawab dengan si kakek, takutnya dia memang bukan orang normal.
Yowes, akhirnya sampai giliran saya melakukan order : dua bungkus nasi uduk. Dengan sigap si Mpok membungkus pesanan saya. Dua bungkus nasi uduk komplit pake tempe orek, mie, kentang goreng balado plus tempe goreng tepung yang renyah dan taburan krupuk. Bedanya, satu bungkus pake sambel dan yang satu bungkus lagi nggak pake sambel.
Saya pulang sambil gowes dan ternyata si kakek tadi sudah selesai menata lapaknya, Sekarang dia sedang duduk di pinggiran lapak, seakan menunggu pembeli datang.
Duh, apa bener tuh kakek mau jualan? Siapa sih yang mau beli CD  bekas yang sudah kentara banget bekas pakai itu? pikir saya. Jualan CD bajakan saja sekarang juga sulit karena orang bisa tinggal unduh di internet. Apalagi melihat penampilan si  kakek, orang sudah pasti akan menyangka dia nggak waras.
Apa dia butuh uang ya? Apa dia sudah makan?
Terlintas di pikiran saya untuk memberikannya sebungkus nasi uduk yang saya beli. Tapi akhirnya saya memutuskan untuk memberinya selembar sepuluh ribuan saja. Ya, siapa tau dia nggak suka nasi uduk. Siapa tau dia lebih suka makan bubur ayam? Dia bisa beli satu mangkuk bubur ayam komplit dengan sate plus air mineral dengan duit ceban ini, pikir saya seraya berhenti di depan si kakek.
“Kek, saya cuma punya segini di kantong, cukuplah buat sarapan,” ucap saya.
Dan saya sudah bersiap dengan wajah tanpa ekspresi dia. Saya hanya berharap dia nggak akan bangkit dan ngamuk karena tersinggung diberi uang.
Ya Allah, semoga ia mau menerima uang ini, doa saya dalam hati.
Kedua tangan  kisut itu pun terulur menyambut uang cebanan kusut dari saya.
"Alhamdulillah," satu kata keluar dari bibir yang selama ini selalu mengatup itu.
Saya terpana. Dan bahkan hingga detik saya tiba kembali di rumah. saya masih terpana. Dia bilang alhamdulillah. Berarti dia nggak gila dong?
Saya jadi ingat saat berada di forum rembuk warga dengan anggota dewan yang sedang reses kemarin. 
Saat salah satu warga minta dana untuk pembinaan para remaja agar punya kesibukan. Sehingga mereka bisa teralih perhatiannya dari narkoba dan seks bebas. Si anggota dewan bilang, dana pemerintah yang ada hanya dianggarkan untuk anak-anak usia dini dan lansia, bukan untuk remaja.
Lalu bagaimana dengan kakek tua itu? Bukankah dia lansia?


6 komentar:

  1. Tapi yang dapat dana itu mereka yang terdata di kelurahan saja biasanya... kalo si kakek gak terdata gak dapat kayaknya santunannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali. Karena aparat pemerintah harus tunduk pada regulasi. Apalagi si kakek bukan warga sana. Dinas sosial seharusnya punya hotline khusus nih agar masyarakat bisa langsung melapor kalau ada warga terlantar seperti ini

      Hapus
  2. terharu deh bacanya :( ... Aku srg ga tega ngeliat org2 lansia bgini yg msh hrs kerja ya mba.. moga2 si kakek itu selalu dilindungi ama yg di Atas dari org2 jahat...

    BalasHapus
  3. Semoga kakek itu bisa mendapat perhatian lebih ya.

    Takutnya kalau seperti kasus di Surabaya, ada kakek-kakek yang meminta belas kasihan dengan beredar di jalanan dengan pakaian lusuh padahal ternyata orang kaya dan istrinya banyak... Weleh-weleh.

    Salam kenal mak, sudah saya follow ya ^^

    BalasHapus
  4. wah, ada ya kakek-kakek seperti itu? perlu dikaji tuh mengapa si kakek kaya bisa meminta-minta seperti itu.
    Salam kenal juga mak. Terimakasih atas kunjungannya ^__^

    BalasHapus