Senin, 07 April 2014

Webinar Homeschooling Anak Usia Dini bersama Rumah Inspirasi

Share on :



                                          
Pengalaman pribadiku mengenai keempat sesi webinar  Homeschooling Usia Dini ini semakin mendalam saat mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. Ya, saat Gie menolak untuk pergi ke sekolah tepat pada saat itu pula sebenarnya kuputuskan untuk Homeschooling saja. Awalnya prinsipnya ya enjoy aja. Jadi, jalani saja proses homeschoolingnya sembari browsing dan nanya sana sini. Dan awalnya sempat salah persepsi juga sih karena hasil bertanya sana sini membawaku pada sebuah lembaga Homeschooling. Namun ternyata Homeschooling yang sebenarnya itu adalah Homeschooling yang benar-benar sesuai dengan artinya yaitu pendidikan rumah bukan Homeschooling berupa lembaga.

Dan alhamdulillah,  karena Allah sayang pada kami (geer amat :D) Saat lagi butuh banyak informasi mengenai Homeschooling untuk Anak Usia Dini, ternyata bertepatan pula waktunya dengan webinar Homeschooling untuk Anak Usia Dini dari Rumah Inspirasi. Jadi, ibarat gayung bersambut. Pas lagi butuh ilmu mengenai Homeschooling untuk Anak Usia Dini, ada kesempatan untuk belajar via Rumah Inspirasi.

Pada webinar pertama, kami langsung disuguhi materi mengenai Gagasan Dasar Homeschooling Usia Dini.
Dimana pada saat orangtua memutuskan untuk memilih Homeschooling,  bukan pendidikan formal, maka pada saat itu pula orangtua sudah menyatakan kesediaannya atau kesanggupannya untuk mengambil tanggung jawab sendiri dalam pendidikan si anak. Orangtua yang memilih untuk melakukan Homeschooling  ini disebut juga praktisi Homeschooling.

Banyak penyebab mengapa para orangtua akhirnya memutuskan untuk menjadi praktisi Homeschooling. Diantaranya adalah :
1. Karena menginginkan bentuk   pendidikan yang lebih baik untuk anak.
2. Karena alasan keyakinan.
3. Lingkungan sekolah yang buruk.
4. Alasan lainnya yang lebih spesifik
Misalnya alasanku adalah karena Gie mogok, nggak mau sekolah lagi.

Namun, sebenarnya masalah baru atau tantangan baru muncul juga. Kenapa? Karena sebagai orangtua, aku 
sebenarnya nggak pede untuk ngajar Gie di rumah. Aku kan bukan guru PAUD atau TK?  
Untunglah didalam webinar pertama ini, Mas Aar langsung memberitahu bahwa tugas utama seorang anak Homeschooling Usia Dini itu bukanlah belajar tapi bermain. Bermain tapi ada pelajaran di dalamnya.
Wah, ternyata orangtua yang ikutan Homeschooling Usia Dini harus menambah wawasan, pendidikan dan pengetahuannya agar menjadi pede bahwa mereka mampu menjadi praktisi Homeschooling Usia Dini di rumah sendiri.

Apalagi tantangan untuk anak Homeschooling Usia Dini ini tak hanya satu  saja. Bukan hanya sebatas mengembalikan rasa percaya diri orangtua bahwa dia mampu  mendidik sendiri anaknya di rumah. Tapi orangtua juga harus meningkatkan keterampilan pengasuhan atau parentingnya, orangtua juga harus belajar bagaimana mengelola manajemen keseharian  di dalam perjalanan Homeschooling Usia Dini.   

Selain itu  juga harus menghadapi berbagai tekanan dari lingkungan. Dimana tidak  mengirim anak ke sekolah formal merupakan  sesuatu hal yang 'aneh' bagi pandangan mata sejumlah orang. Dan orang ini bisa siapa saja. Tetangga, teman bahkan saudara atau kakek nenek si anak yang selalu bertanya, “Mengapa anakmu nggak mau sekolah?"

Namun selain pertanyaan dan keingintahuan orang lain. Tantangan yang paling berat adalah kesibukan orangtua. Jika kedua orangtua adalah orangtua bekerja, maka orangtua harus bisa mengatur supaya proses interaksi dengan anak bisa berlangsung secara efektif dan berkualitas. Termasuk juga orangtua harus berusaha menyelaraskan nilai-nilai yang ingin ditanamkan di dalam pendididikan Homeschooling Usia Dini bersama pengasuh si anak.

Karena, kembali seperti yang dibicarakan di awal bahwa anak Homeschooling Usia Dini itu bermain sambil belajar tapi bukan belajar pelajaran. Mereka lebih dituntut untuk memiliki kepribadian, wawasan dan kemandirian. Jadi biarkan semuanya berjalan secara alami. Jangan tuntut anak usia dini harus bisa calistung(baca-tulis-hitung).

Anak yang tidak siap akan mengalami masalah jika dipaksa belajar sesuatu yang dia belum siap. Lakukan stimulasi untuk menapaki kesiapan anak. Misalnya dalam keterampilan sosial. Jika awalnya dia masih malu-malu untuk berteman, ajari untuk berinteraksi dengan satu anak dulu. Setelah itu latihlah untuk bisa berinteraksi dengan lebih banyak anak dan akhirnya anak akan mampu untuk berteman dengan banyak teman sekaligus.

Namun apapun tantangannya, tetap ada keuntungannya jika kita memulai Homeschooling  sedari anak masih berusia dini kenapa? Karena:
1. Orangtua terlibat  penuh dalam perkembangan anak
2. Terjalinnya ikatan yang erat antara anak dan orangtua
3. Bimbingan dan pendidikan sekolah rumah langsung dari orangtua  selama  masa golden years (0-6 th) bisa menjadi landasan atau pondasi dasar yang kuat untuk jangka panjang yaitu saat anak  meneruskan pendidikan di usia remaja dan dalam kehidupannya saat dewasa kelak.
4. Menguji komitmen dan praktek Homeschooling Usia Dini
5. Meminimalkan risiko Homeschooling Usia Dini karena TK/PAUD sebagai sekolah formal masih berupakan opsi bukan keharusan. Jadi, jika nanti anak siap dan  menginginkan untuk bersekolah formal, anak sudah siap.

Dan yang paling utama adalah keep it simple. Sederhanakan saja. Tujukan hanya kepada tiga hal besar ini yaitu :
1. Anak sehat
2. Anak bahagia
3. Anak siap menjelajah dunia

Webinar sesi kedua membahas tentang Kurikulum dan Materi Belajar Anak Homeschooling Usia Dini. Sudah tahu kan beda antara Homeschooling dengan sekolah formal? Jika di sekolah, guru dan pihak sekolah memiliki peran yang sentral, maka dalam Homeschooling, keluargalah yang menjadi sentral atau pusat dari proses penyelenggaraan pendidikan rumah tersebut. Dimana :
- Keluarga yang menentukan visi dan tujuan pendidikan yang ingin diraih.
- Keluarga terlibat di dalam proses penyelenggaraan pendidikan sehari-hari
- Keluarga juga yang  melakukan tahap evaluasi nantinya
Hal-hal tersebut diatas merupakan peluang sekaligus tantangan bagi keluarga tersebut di dalam   penyelenggaraan Homeschooling Usia Dini.

Saat harus memilih kurikulum dan panduan belajar, setiap keluarga praktisi Homeschooling Usia Dini bebas dalam memilih dan menentukan panduan apa serta kurikulum apa yang hendak mereka pakai. Bahkan mereka juga bisa memadu padankan setiap panduan karena setiap keluarga adalah unik. Dan kita kembali lagi  pada prinsip dasar Homeschooling Usia Dini yaitu keep it simpel alias sederhana.

Jika keluarga A cocok dengan sebuah kurikulum, belum tentu keluarga yang lain juga cocok. Maka sesuaikanlah dengan kebutuhan setiap keluarga. Bahkan tanpa kurikulum juga boleh. Maka, saat memutuskan untuk memilih sebuah kurikulum atau panduan tertentu di dalam melakukan pendidikan Homeschooling Usia Dini.

Ada 3 poin penting yang menjadi bahan pertimbangan yaitu :
- mengenali nilai-nilai yang dianggap penting oleh keluarga
- mengenali pilihan-pilihan yang ada
- memilih yang paling sesuai

Selain mengacu pada kurikulum, ada acuan lain yang juga digunakan oleh sebagian praktisi Homeschooling Usia Dini yaitu Unschooling. Model pendidikan unschooling merupakan kontra dari model kurikulum Homeschooling. Dimana di dalam proses pembelajarannya metode unschooling menggunakan pendekatan children-led learning. Maksudnya adalah proses belajar yang dilakukan dipicu oleh anak.
Hal ini berdasarkan pada asumsi bahwa keinginan belajar pada anak itu bersifat alami. Jadi, sejak dilahirkan hingga si bayi mulai bisa berinteraksi dengan lingkungannya, setiap anak memiliki naluri untuk selalu ingin tahu dan melakukan eksplorasi terhadap berbagai hal. Oleh sebab itu tugas orangtua adalah mensupportnya dan mengurangi intervensi.

Sebenarnya untuk menentukan pilihan  panduan, orangtua bisa melakukan riset kecil-kecilan  atau nanya-nanya pada sesama praktisi Homeschooling Usia Dini lain. Atau bisa juga dengan  membaca buku-buku terkait Homeschooling Usia Dini sebagai referensi. 
Dan sebenarnya  ada pilihan lain  juga yaitu dengan learning by doing. Jadi saat melakukan perjalanan Homeschooling Usia Dini, orangtua juga belajar dan menambah wawasan bagaimana meningkatakan kapasitas diri dan  meningkatkan good parenting.

Yang paling penting untuk diingat oleh  para orangtua adalah :
Tujuan Homeschooling Usia Dini bukanlah untuk mencetak anak yang selalu juara lomba,  selalu meraih rangking tertinggi dan hal lainnya yang bertujuan untuk award atau pameran untuk menonjolkan kehebatan si anak. Secara sederhana, tujuan di dalam melakukan Homeschooling Usia Dini adalah untuk :
  1. Membangun pola hidup sehat.
Banyak kita temukan kasus obesitas, serangan jantung, diabetes dan penyakit lainnya di usia muda atau usia produktif yang disebabkan oleh pola hidup tidak sehat. Penting sekali untuk  menanamkan pola hidup sehat ini pada anak-anak sejak mereka masih kecil terutama dalam masa golden years 0-6 tahun. Pola hidup sehat seperti: tidak begadang, banyak makan sayur dan buah, kurangi makan yang manis, sarapan tepat waktu, berolahraga minimal 3 kali seminggu, salat tepat waktu dan kegiatan lainnya,  merupakan sebuah kegiatan atau hal yang perlu dirancang dengan sadar dan bukan dibiarkan mengalir begitu saja.

  1. Membangun kenangan bahagia
Kenangan indah tak akan terlupa sepanjang hayat dan itu adalah kenyataan yang tak bisa dipungkiri. Nah, agar anak-anak kita tumbuh  menjadi anak yang penuh semangat, kenangan indah akan bisa menjadi  pendorong mereka saat sedang down di  masa dewasa kelak. Atau mungkin bahkan saat para orangtuanya telah tiada nanti.
Jadi penting banget bagi para orangtua untuk menghadirkan  kenangan-kenangan bahagia  bersama anak-anaknya. Kebahagian itu tak diukur dari  materi semata. Hal-hal sederhana juga bisa membuat bahagia. Misalnya jalan-jalan bersama ke taman, bermain bersama, makan bersama di taman alias piknik, berenang bersama dan sebagainya.

  1. Membangun kebiasaan baik
Orangtua mana yang tak senang melihat anak yang santun, berbudi luhur dan memiliki kebiasaan yang baik? Apalagi kalau anak itu ternyata anak kita sendiri. Nah, usia 0-6 tahun merupakan saat yang tepat untuk membangun kebiasaan baik bagi anak.
Misalnya dimulai dengan hal yang sederhana, seperti mengucapkan salam saat hendak masuk rumah, menyalami orang yang lebih tua setiap awal  bertemu, membudayakan antri,  membuang sampah pada tempatnya, bangun pagi, dan sebagainya. Setiap keluarga bisa menentukan, kebiasaan baik apa saja yang perlu dibangun pada anak.
Apapun juga jenis kebiasaan baik yang akan dibangun pastikan bahwa orangtua juga  memberikan keteladanan yang sama dan kebiasaan-kebiasaan baik ini harus dijalankan secara konsisten.

  1. Membangun kemandirian
Inti dari kemandirian pada anak usia dini adalah, saat anak bisa melakukan sendiri apa yang dibutuhkan. Mengajarkan kemandirian  pada anak tak bisa dengan serta merta. Selalu ada proses serta konsistensi yang harus dilewatinya. Orangtua harus selalu melakukan support saat anak berhasil mencapai tahap demi tahap  kemandiriannya walau meski hal itu mungkin terasa sederhana buat orang dewasa. Misalnya saat anak bisa mencuci tangan sendiri, saat anak bisa makan sendiri (padahal berantakan dan nasinya bertebaran), saat anak bisa memberitahu saat ingin buang air besar, dan sebagainya.

  1. Membangun keterampilan sosial
Salah satu bentuk keterampilan sosial pada anak adalah saat anak mampu membangun komunikasi dengan orang-orang di sekelilingnya. Terutama dengan orangtua dan saudara-saudaranya serta orang-orang terdekatnya. Setelah itu barulah mengajarkan anak untuk berinteraksi dan membangun komunikasi sosial dengan orang lain

  1. Membangun keingintahuan dan pengetahuan, membaca, berhitung dan berkomunikasi merupakan hal-hal penting yang perlu dikembangkan pada anak. Namun bukan berarti anak harus dipaksa untuk bisa membaca sesuai target atau lancar dalam berhitung. Bidiklah target jangka panjang. Misalnya mengajari anak agar cinta buku dan cinta baca serta memupuk keingintahuan anak terhadap pengetahuan termasuk membangun logika anak.
Sedangkan pada tahap evaluasi ataupun pada saat proses Homeschooling Usia Dini berjalan, orangtua bisa menggunakan ceklist atau parameter untuk melihat sejauh mana perkembangan yang dicapai anak selama proses Homeschooling Usia Dini berjalan.

Webinar ketiga memasuki pembahasan mengenai Pola Kegiatan Homeschooling Anak Usia Dini. Pada saat anak baru lahir dan kita masih terpesona menyaksikan bagaimana makhluk mungil ini bereaksi terhadap dunia, ternyata dia terus bertumbuh. 6 bulan, satu tahun, dua tahun dan tahun demi tahun bertambah tanpa terasa. Jangan sia-siakan momen-momen indah ini!

Pada saat bayi, yang dibutuhkan oleh anak adalah kesehatan, rasa nyaman, perlindungan, pelukan, ciuman, usapan, kehangatan, cinta, termasuk juga stimulasi yang berpengaruh pada panca inderanya.
Kemudian saat usianya mencapai satu tahun, anak mulai berjalan dan berbicara. Kegiatan motorik kasarnya pun berawal dari sini. Si batita pun dipenuhi oleh rasa ingin tahu yang besar. Oleh  karena itu, orangtua sebaiknya menjaga  keamanan lingkungan sekitar batita yang siapa tahu  mungkin bisa  membahayakan dirinya. Jangan lupa untuk menstimulasinya dengan mengajak dia mengobrol dan bercerita.
Pada saat usianya memasuki tahun kedua, anak akan mulai berkenalan dengan lingkungan di luar dirinya. Dia mulai ingin tahu dan memahami segala sesuatu dengan  keterbatasannya. Anak  juga  akan belajar meniru. Pada tahap ini kemungkinan si kecil akan membuat sejumlah  kekacauan  karena keterbatasan motorik yang dimilikinya. Misalnya memecahkan barang, terjatuh, membanting pintu dan lain sebagainya. Pada masa-masa ini yang dibutuhkannya adalah keamanan, kenyamanan dan role model yang baik. Termasuk membangun interaksi yang baik antara orangtua dan anak. 
Interaksi yang dimaksud adalah interaksi informal dimana hubungan yang terjalin antara anak dan orangtua adalah berbentuk:
- Hubungan emosional bukan hubungan profesional
- Berbasis penerimaan bukan otoritas
- Negosiasi bukan perintah
- Peluang pembelajaran tanpa batas

Pola kegiatan yang disusun untuk anak Homeschooling Usia Dini sebaiknya berupa kegiatan Terpola -Terencana, dimulai dengan  membangun pola aktivitas harian, berkegiatan bersama, dan menyediakan materi siap pakai.
Ada juga kegiatan alami, dimana kegiatannya dibuat atau dikembangkan dengan memanfaatkan keseharian anak. Memperkaya kegiatan dengan keterlibatan orangtua dan ikut serta terlibat di dalam perbincangan,  termasuk memanfaatkan keseharian bersama orangtua.
Ide-ide kegiatan bisa diambil dari  berbagai sumber seperti internet, buku-buku atau majalah-majalah parenting. Atau bisa juga melalui teman-teman sesama praktisi Homeschooling Usia Dini.
Kunci yang paling  penting adalah, sesuaikan dengan kondisi dan jangan sampai terintimidasi tapi jadilah terinspirasi ^__^

Misalnya untuk kegiatan dalam ruangan :
- Kita bisa membuat pola kegiatan berdasarkan keseharian anak, mulai dari saat anak  bangun tidur sampai saat Anak tidur lagi
- Membuat prakarya, percobaan, worksheet bersama
- Membawa anak terlibat dalam pekerjaan orangtua
- Membacakan cerita menjelang tidur

Kunci dari suksesnya kegiatan dalam ruangan  adalah :
- Pengamatan orangtua atas keseharian anak
- Box berisikan materi siap pakai
- Dengan banyak tertawa dan bercanda

Melakukan kegiatan luar ruangan bisa berupa : 
- Melakukan jalan atau  bersepeda di pagi atau sore hari
- Melakukan eksplorasi lingkungan baik di pasar, taman, pabrik dan sebagainya
- Melakukan kegiatan olahraga, menonton pertunjuka, fieldtrip, dan sebagainya 

Kunci suksesnya kegiatan luar ruangan adalah :
- Dengan memanfaatkan semua yang ada di sekitar kita
- Kegiatan luar ruangan juga diperkaya dengan obrolan
- Dengan banyak tertawa dan bercanda

Tips praktis untuk orangtua Homeschooling Usia Dini adalah  :
- Nikmati perjalanan, tambahkan kelapangan. Homeschooling Usia Dini ini adalah perjalanan marathon
- Perbanyak interaksi, lakukan pengamatan keseharian. Gunakan panduan sebagai pelengkap
- Rajinlah bertanya, bercerita dan mendengarkan
- Cari keseimbangan antara kegiatan terencana dan alami
- Libatkan anak di dalam keseharian orangtua
- Bangun pola kegiatan sehari-hari
- Senyumlah, elus, peluk,cium, apresiasi anak Anda

Homeschooling Usia Dini merupakan sebuah perjalanan yang menyenangkan plus menantang. Tantangannya juga beragam. Bahkan tantangan tersebut juga berasal dari diri sendiri, saat orangtua  bertanya apakah saya mampu? Apakah saya bisa menjalani Homeschooling Usia Dini ini dengan sukses?
Nah, untuk solusinya  jangan lupa kalau  Allah tidak akan memberikan cobaan atau tantangan yang kita tak akan mampu menjalaninya. 
Karena Tuhan tahu kita mampu, kalau nggak kita tidak akan diberi seorang anak untuk dirawat, dijaga dan dicintai serta dididik dengan baik. So, kita pasti bisa menahan sabar, pasti bisa meredam emosi, pasti bisa melakukan proses parenting ini dengan baik, jika kita terus belajar menambah ilmu parenting kita agar menjadi semakin baik lagi.  Jadi, percaya diri aja deh. Yakin saja. Keep it simpel ;)


By
Aira Kimberly                




6 komentar:

  1. inspiratif banget mak..TFS ya

    BalasHapus
  2. MOga sukses ngejalanin sukses ya mak. Awalnya juga saya dan suami pengen HS buat anak. Tapi si anak ngeliat anak2 tetangga yang pada skolah jadi tertarik minta sekolah juga. Ya udah kalo saya ngikutin maunya anak ajalah

    BalasHapus
  3. Terimakasih udah mampir mbak Ruziana Ana :)

    BalasHapus
  4. Benar mbak Rahmi Aziza :) kita harus ikut apa maunya anak. Gie udah didaftari masuk PAUD tp di hari ke 3 dia mogok nggak mau sekolah lagi. Makanya dia pindah ke HS. Kalau kakak2nya ada yg HS ada juga yg sekolah formal

    BalasHapus
  5. Setuju..memang dasar pendidikan adalah dalam keluarga, Seseorang yang paling mengerti kebutuhan anak sebenarnya adalah keluarga, ibu paling utama...aaach makasih Mak.

    BalasHapus
  6. sama-sama mak Astin. Senang sekali jika artikel ini bermanfaat ^__^

    BalasHapus