Minggu, 23 Maret 2014

Webinar Homeschooling Anak usia Dini sesi #2

Share on :



Dimulai on time seperti biasa tepat pukul tujuh malam, webinar sesi # 2 Rumah Inspirasi  dibuka langsung oleh Mas Aar. Materi webinar ke 2 ini adalah  Petunjuk & Sumberdaya Homeschooling Anak Usia Dini.

Homeschooling  adalah Pendidikan Berbasis Keluarga  
Homeschooling Anak Usia Dini merupakan sebuah pendidikan berbasis keluarga.  Jadi, anak Homeschooling  itu tidak sekolah. Yang membedakan antara anak Homeschooling dengan anak sekolah  adalah gagasannya. Kalau anak sekolah, berarti orangtua  menitipkan anaknya pada  lembaga atau  sistem atau profesional yang memiliki  pendidikan atau kemampuan untuk mendidik anak.
Dalam hal ini, tugas orangtua adalah  mencarikan sekolah atau sistem yang paling  ideal menurut orangtua. Dan orangtua  tinggal menyiapkan dana saja karena sekolahlah yang akan menjalankan  sistemnya.
Namun di dalam Homeschooling Anak Usia Dini, orangtua bertanggung  jawab sepenuhnya karena keluargalah yang menjadi sentral atau pusatnya. Mulai dari merencanakan,  menjalankan, dan mengevalusi seberapa efektif kegiatan yang mereka jalani.

Praktek atau Aplikasi Homeschooling Anak Usia Dini Berbeda-Beda
Karena setiap keluarga berbeda-beda,  maka model Homeschooling Anak Usia Dininya juga tidak sama atau  unik.
Maksudnya adalah  model Homeschooling tiap keluarga memiliki karakteristik yang dekat dengan kegiatan keseharian di keluarga tersebut. Misalnya orang tua yang dekat dengan komputer dan IT dalam keseharian mereka, maka anak-anak mereka pun otomatis akan ikut dekat dengan keseharian seperti itu juga.
Namun yang paling penting atau basic adalah mengenali nilai-nilai keluarga. Itulah yang paling penting. Dimulai dengan pertanyaan, mengapa orangtua memilih Homeschooling untuk anak mereka? Apa target atau tujuannya? Kemudian identifikasikan apa yang diinginkan untuk anak.

Kurikulum Homeschooling Anak usia Dini
Setelah semua hal diatas jelas, barulah orangtua melangkah ke kurikulum. Pilihlah model kurikulum yang orangtua dan anak merasa nyaman dan cocok mengaplikasikannya.  Setelah itu  baru dijalankan sesuai dengan  apa yang divisikan atau dicita-citakan saat memutuskan Homeschooling.
Setiap  negara di dunia memiliki kurikulum untuk preschool. Kalau di Indonesia hanya  ada satu kurikulum. Namun kalau di luar negeri banyak pilihan kurikulum. Ada kurikulum untuk anak-anak Amerika, Australia, Eropa, dan seterusnya yang berbasis negara.  
Selain kurikulum yang dikeluarkan oleh negara, ada juga kurikulum yang dikeluarkan oleh tokoh-tokoh pendidikan  tertentu misalnya kurikulum preschool Maria Montessori atau Charlotte Mason, dan lain-lain. Orangtua boleh  menggunakan kurikulum yang mana saja. Orangtua bisa membaca dan menyesuaikan dengan kurikulum mana yang paling ideal atau sesuai dengan yang diinginkan.

Sebenarnya setiap  kurikulum lahir berdasarkan cara pandang tertentu terhadap anak dan pendidikan anak. Selain itu, cara memandang kondisi alamiah anak juga berbeda-beda.
1. Ada yang menganggap anak bagaikan kertas kosong atau tabula rasa, sehingga tujuan pendidikan ditetapkan oleh orang dewasa
2.Ada juga pemikir pendidikan yang memandang bahwa anak itu bukan kertas kosong tapi individu yang memiliki potensi, sifat atau karakter yang sudah diberikan Tuhan dan terbawa sejak lahir.
Akibatnya saat terjadi interaksi dengan lingkungan, maka anak akan berusaha memproses sesuai dengan kedirian mereka atau sesuai dengan sudut pandang mereka sendiri. Akibat adanya sudut pandang seperti ini, maka tujuan pendidikan tidak diputuskan oleh orangtua sendiri tapi lebih menjadi fasilitator anak.

Pilihannya adalah apa yang menurut orangtua yang paling  tepat dengan  kondisi, keadaan, nilai-nilai yang diyakini dalam keluarga. Memfasilitasi adalah menggunakan prinsip memberi support pada anak untuk menggunakan segala potensi diri mereka. 
Misalnya keluarga yang berbasis literatur  bisa saja cocok bila menggunakan metode Charlotte Mason. Sementara keluarga yang berbasis pada IT mungkin lebih cocok menggunakan metode yang berbeda.

Intinya adalah pada saat membaca sebuah kurikulum, fokuslah pada anak, jangan sampai merasa terintimidasi oleh kurikulum tapi fokuslah pada anak. Poin yang paling penting adalah  carilah metode yang tepat, yang paling  sesuai dengan nilai-nilai dan kondisi keluarga. Apa yang bisa dipraktekkan, apa yang sesuai dengan  nilai-nilai  keluarga, apa yang bisa dijalani dengan bahagia oleh masing-masing anggota keluarga yaitu anak dan orangtua, itulah yang paling tepat.

Untuk keluarga yang  anaknya sudah tumbuh,  bisa dimulai dengan  pola pengasuhan good parenting. Tujuan besarnya adalah :
1. Membuat anak sehat
2. Membuat anak bahagia
3. Membuat anak siap mengeksplorasi dunia

Sebagai panduan, orangtua bisa menggunakan  ceklist (ada yang berdasarkan kurikulum diknas, ada juga yang lainnya).
Untuk prakteknya :
- Siapkan kurikulum/ceklist
- Siapkan materi. Misalnya: kertas/lem/gunting, mainan edukatif, dll
-Siapkan internet (komputer) sebagai investasi edukatif + printer
- Materi terbesar dalam  proses Homeschooling adalah  keseharian. Orangtua dalam menjalani kegiatan sehari-hari harus dengan  sabar. Kegiatan  sehari-hari bersama anak-anak bisa  diperkaya dengan  obrolan. Misalnya dengan membangun percakapan dengan  anak, misalnya saat mandi orangtua bisa mengajar anak mandiri, menuang air sendiri, menyabuni sendiri, masuk kamar mandi dengan  hati-hati, memakai pakaian sendiri, dan sebagainya. Semua hal ini memang tak akan  terjadi dengan seketika tetapi sedikit demi sedikit seiring waktu.

Kunci lain dalam  proses Homeschooling untuk anak usia dini adalah menyederhanakan apa yang dianggap kompleks. Misalnya kurikulum. Kurikulum bisa disederhanakan. Intinya  fokus saja pada hal-hal sederhana yang bisa dikerjakan bersama anak-anak.
Yang terpenting adalah:
1. Membangun pola hidup sehat
 Mulai dari memberikan anak ASI sejak baru lahir hingga usia dua tahun, memberikan mereka  makan bergizi, mengatur agar anak bisa tidur yang cukup, memberi anak kesempatan melakukan kegiatan fisik yang banyak, memberikan pola komunikasi yang penuh cinta, menciptakan lingkungan yang nyaman untuk anak dan sebagainya.
Parameternya bisa dilihat dari  berat badan anak dan antusiasme anak dalam berkegiatan.
2. Membangun kenangan bahagia balita
Kenali apa yang membuat mereka bahagia dan lakukanlah dalam  pola-pola keseharian bersama mereka. Ini bukan tentang uang tapi tentang perhatian dari orangtua terhadap anak. karena anak tidak melihat berapa mahal hadiah yang mereka terima  tapi berapa besar perhatian orangtua pada mereka.
3.Membangun kebiasaan baik. Parameternya adalah  ketika anak terbiasa melakukan sesuatu tanpa diperintah. Hal yang bukan kebiasaan yang sudah  ada tapi diulang-ulang selama bertahun-tahun hingga akhirnya menjadi kebiasaan baik. Misalnya  bangun  pagi dengan teratur. Berikanlah feed back saat anak melakukan kebiasaan baik. Misalnya dengan memberikan pujian saat dia melakukan sebuah kebiasaan yang baik.
4. Membangun kemandirian. Parameter membangun kemandirian anak bisa dilihat dari ketika anak  bisa buang air kecil sendiri, makan sendiri, dan seterusnya. Semua bisa dilakukan secara bertahap dan orangtua  menjadi  sosok yang paling  penting dalam pendidikan  anak karena orangtua memiliki kepekaan dalam pendidikan  anak.
5. Membangun keterampilan sosial
Orangtua bisa memulai dengan membangun kemampuan komunikasi dua arah dengan anak. Parameternya bisa dilihat dari bagaimana  cara anak  mengungkapkan apa yang dia rasakan, dan sebagainya tentang pikiran dan perasaannya tentang sesuatu hal atau masalah.
6. Membangun keingintahuan dan pengetahuan
Sediakan ruangan yang aman untuk anak bereksplorasi, sediakan mainan yang aman dan eksploratif, berikan respon yang nyaman untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan anak, apresiasi insiatif anak, beri toleransi yang besar untuk kesalahan yang terjadi, sehingga anak menjadi percaya diri karena meski berbuat kesalahan, mereka tetap dihargai karena mau  mengakui  kesalahannya dan berusaha untuk  menjadi lebih baik lagi.  Parameternya bisa dilihat dari karakter anak yang selalu semangat  dan  penuh rasa ingin tahu

Kunci dari homeschooling untuk anak usia dini adalah  sangat sederhana, sesederhana menjadi  orangtua yang baik. Prinsipnya adalah menyiapkan fondasi jangka panjang  untuk anak. Baik secara kesehatan, keterampilan sosial, berkomunikasi yang baik, kenangan yang bahagia, membangun kemandirian  dan membangun keingintahuan dan pengetahuan. Penting sekali bagi para orangtua yang memiliki anak usia 0-5 tahun bahwa waktu-waktu ini adalah  momen yang penting yang akan segera berlalu dalam sekejap. Jadi manfaatkanlah dan isilah dengan baik.

By
Aira Kimberly









Tidak ada komentar:

Posting Komentar