Selasa, 11 Februari 2014

10 Menit "Nuansa" Ustad Maulana

Share on :
                                       
Siapa yang tak kenal dengan Ustad Maulana? Melihat ustad yang humoris ini secara langsung akan terasa jauh berbeda dibandingkan menonton acara live beliau sekalipun di televisi.

Adalah sebuah kesempatan yang sangat langka bagiku  berkesempatan menghadiri ceramah ustad yang kondang lewat Youtube ini. Yaitu saat SDN Menteng Atas 11 Pagi,  SDN Menteng Atas 12 Pagi, SDN Menteng Atas 13 Petang berkolaborasi mengadakan acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw 1435 H. 



Ustad Maulana akhirnya tiba juga di SDN 11,12, 13 Menteng Atas setelah ditunggu-tunggu oleh para murid sejak jam 7 pagi. Ternyata pesawat beliau yang datang dari Palu  dan kemudian ganti pesawat lagi di Makassar, sempat tertunda sebelum akhirnya terbang ke Jakarta.
Alhamdulillah pada menit-menit menjelang adzan dzuhur, Ustad Maulana tiba di sekolah kami. Wajahnya terlihat lelah namun segera berganti bias penuh semangat saat melihat anak-anak masih tetap duduk rapih menunggu kedatangan beliau. Ustad Maulana berkata bahwa anak-anak selalu mendorongnya untuk semangat berdakwah karena majelis yang dihari oleh anak-anak juga dihadiri oleh puluhan ribu malaikat. Beliau juga memohon maaf karena hanya punya 10 menit bersama kami dan harus segera kembali untuk syuting di lokasi Brimob Kelapa Dua.
Namun 10 menit itu sangat bernas. Sang ustad berhasil membagikan ilmunya mengenai Rasulullah, tentang betapa beruntungnya sebenarnya para anak yatim dan piatu meski mereka tak punya ayah atau ibu.  Karena sesungguhnya anak yatim dan piatu mendapat keistimewaan dari Allah swt yaitu mereka tidak sempat durhaka atau melukai hati orangtua mereka, karena orangtua mereka telah mendahului mereka terlebih dahulu.
Contohlah Rasulullah saw yang terlahir sebagai anak yatim piatu tidaklah menjadi anak broken home yang tak kenal aturan dan selalu frustasi. Tapi beliau yang digembleng dengan penderitaan sedari kecil tetap menjalani hidup dengan senantiasa bertawakal pada Allah Swt. Anak yang terlahir tanpa ayah atau ibu yang sudah mendahului mereka kembali ke hadirat Illahi sungguh beruntung karena mereka tidak memiliki dosa pada orangtua mereka. Apalagi dosa pada ibu mereka.





Sembari berdakwah, Ustad Maulana tetap tak kehilangan sisi humorisnya. Namun dibalik kekonyolannya dan sikap kocak yang ditunjukkannya saat dakwah di depan ratusan murid sekolah dasar,  dapat terlihat jelas bahwa Ustad Maulana adalah seorang bijak yang pintar. Beliau berhasil membranding dirinya, menonjolkan kualitas dan sisi positif dirinya tanpa menutupi-nutupi dengan hal yang palsu. Tanpa pencitraan istilah lainnya.
Ustad Maulana tidak malu mengakui bahwa penampilan fisiknya tidaklah seganteng seorang peragawan atau aktor. Tapi, hal itulah yang membuat beliau selalu dekat dihati dan senantiasa dirindu. Sikap merakyatnya. Ustad, datang lagi yaa! Kehadiranmu senantiasa dinanti ^__^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar