Senin, 04 Januari 2010

Dari Penjahit Ke Penulis

Share on :


Salah satu peristiwa berkesan yang semakin melecut semangatku untuk terus menggali potensi diri dalam dunia penulisan adalah saat mendapat penghargaan ini. Ketika mengirimkan tulisan   untuk mengikuti kontes ini dulu, niatku tak lebih hanya ingin berbagi pada sesama emak-emak di seluruh Indonesia. Bahwa dengan menikah dan menjadi full time mother bukan berarti kita jadi terhenti untuk mengembangkan potensi diri.
Keadaan, waktu dan usia bukanlah penghalang untuk terus maju. Selagi Allah swt masih memberi kita kehidupan di bumi ini, berarti masih ada waktu untuk meraih impian yang kita mau. Memang tak semua perempuan yang mengalami hal serupa yaitu harus bersusah payah dulu dalam menggapai cita. Ada juga yang diberi kemudahan dan mulus saja dalam perjalanannya. Setidaknya bagi yang pernah merasakan susah akan lebih menikmati ketika saat kemenangan itu  tiba. Sementara untuk yang selalu mendapat kemudahan, semoga bisa berbagi dengan cara lain. Tetap semangat  Ladies!^__ 



Sri Ratna Hadi - Pemenang Harapan Share Your Career Story.
Tinggal di Jakarta.
Selama sepuluh tahun terakhir, setiap lebaran datang  selalu muncul perasaan bersalah mendera hatiku. Semua orang  bergembira di hari yang fitri setelah menunaikan ibadah puasa nan khusuk selama sebulan penuh. Tapi hatiku menyesali mengapa aku tak bisa beribadah secara total sebagaimana di masa kecilku dulu. Mengisi setiap hari ramadhan dengan puasa dan tadarus serta shalat sunnah.
Ya, profesi ini membuatku selalu  keteteran setiap menjelang Idul fitri. Aku  bekerja sebagai penjahit khusus made by order. Jadi  hanya mereka yang mampu membayar lebih dan punya taste of style yang datang padaku.
Apalagi mereka yang baru selesai membangun atau renovasi rumah, akulah yang akan membuatkan pernak pernik bagian dalamnya untuk mereka. Mulai dari bed cover, sarung bantal, gorden dengan desain  mewah, vitrage yang cantik, cushion, dll. Semua made by order.
Saat masih belum punya anak aku tak begitu merasakannya. Apalagi saat anakku baru satu. Tapi setelah anggota keluargaku bertambah lagi satu demi satu aku mulai keteteran.
Aku merasa mulai kekurangan waktu bersama anak-anak. Padahal tujuanku menikah dan punya anak kan demi membentuk sebuah keluarga yang sakinah. Tapi kenyatannya waktuku lebih banyak disita oleh pekerjaan.
Kenyataan ini  mulai membuatku resah. Di satu sisi pekerjaan ini prospeknya sangat bagus. Suamiku adalah seorang developer sehingga dia butuh aku untuk  melengkapi pekerjaannya. Tapi aku juga harus memikirkan anak-anak yang membutuhkanku.
Akhirnya kuputuskan untuk beregenerasi. Dari sekian banyak karyawan kupilih beberapa orang yang kuanggap akan mampu meneruskan jejakku menjahit ‘halus’. Tapi mereka menyerah. Ada yang menyerah saat harus mengunting bahan. Dia takut salah gunting dan bahan gorden yang bermeter-meter dan mahal itu  akan terbuang sia-sia. Ada yang tak sabar dan kurang telaten  sehingga hasil kerjanya  jadi tak halus. Ada yang  tidak berminat.
Aku menyerah, semua kembali kukerjakan sendiri. Tapi hari demi hari kinerjaku makin menurun. Bahkan pernah aku sampai muntah saat memandangi bergulung-gulung  tumpukan bahan kain gorden aneka warna di ruang kerjaku.
That’s it!
 Detik itu juga aku putuskan untuk berhenti. Aku tak bisa menjahit lagi.  Terbayang kembali  saat bayiku yang baru berusia dua bulan  harus menyusu di pelukan sementara sebelah tanganku yang lain sedang memegangi rimpel selebar 8 cm dan berkilometer panjangnya  sedang dineci pinggirannya. Terdengar pula suara batuk batitaku kena debu material bahan yang sedang kugunting.
Aku harus memikirkan sebuah karir baru, pekerjaan yang bisa kukerjakan di rumah dan bisa kuatur waktunya. Kapan harus bekerja dan kapan harus mengurus keluarga. Pekerjan yang mampu menghasilkan uang  tanpa harus mengeluarkan banyak modal. Pekerjaan yang kusenangi karena aku akan bersemangat jadinya bila aku cinta pekerjaan itu.
Cinta? Hmm, aku cinta baca, aku suka menulis diary. Hingga setiap awal tahun aku pasti membeli satu diary tebal untuk kuisi hingga tahun berakhir.
Dahulu sempat aku ingin jadi wartawan. Tapi setelah punya anak tiga aku nggak mungkin  deh jadi wartawan. Ya, Allah.tunjukkanlah karir baru yang cocok untukku.
Dan Tuhan mendengar doaku. Secara kebetulan di sebuah tabloid aku membaca kisah seorang penulis perempuan sukses yang membangun sebuah perkumpulan penulisan non profit. Mereka akan memberi pelatihan kepada siapapun yang ingin belajar menulis. Bahkan biarpun itu ibu rumah tangga atau anak gelandangan sekalipun.
Hmm, aku akan menjadi penulis cerita anak saja. Aku putuskan hal ini karena aku ingin anak-anak Indonesia bisa membaca buku yang bermutu bukan hanya nonton televisi saja. Kelihatannya hal itulah yang harusnya bisa kujadikan karir baruku.
Pertama aku bisa kerja dari rumah. Aku hanya butuh  alat untuk mengetik  berupa komputer dan hobi membacaku bisa kujadikan modal awal untuk menulis. Dan karir ini tidak punya masa pensiun sampai kapanpun aku bisa tetap bekerja selagi mau.
Tapi aku harus belajar menulis dan harus punya jaringan ke penerbit. Bagaimana caranya ya? Aku lalu mencari tahu apakah organisasi penulis yang dimaksud  itu ada cabangnya di kotaku. Tapi ternyata mereka hanya punya cabang di ibukota propinsi. Berarti aku harus ke kota Padang kalau mau belajar menulis.
Keesokan harinya aku naik bus ke Padang mencari informasi tentang organisasi penulisan itu tapi tidak menemukan jawaban yang memuaskan.  Aku tahu tak ada pilihan lain. Aku harus ke Jakarta kalau mau berhasil dengan pilihan karir yang baru ini. Sekarang pertanyaan yang ada adalah mampukah aku menyakinkan suamiku untuk menyeberang pulau dan meninggalkan zona nyaman kami.
 Tidak gampang memang namun aku harus pergi. Aku telah memutuskan, dan akhirnya pada tahun 2007 yang lalu kami pindah ke Jakarta. Tanpa membuang-buang waktu lagi aku langsung bergabung  dengan organisasi  kepenulisan non profit yang telah jadi tujuanku sejak mula.
Seiring keberhasilanku meninggalkan zona nyaman finansial kami, suamiku memboikotku secara finansial. Dia keberatan dengan keputusanku dan tak bisa memahami kenapa aku memutuskan untuk pindah karir.
Dia tidak mau membiayaiku bila itu berhubungan dengan penulisan,hingga aku akhirnya harus membiayai sendiri semua keperluanku. Aku menjadi tukang cuci pakaian  karena aku butuh uang untuk transportasi ke tempat pelatihan, untuk biaya rental computer, beli kertas, dll.
Hal ini melecut tekadku bahwa aku harus berhasil secepatnya. Minimal sebelum anak-anakku masuk sekolah semua.
Alhamdulillah. Setelah dua tahun berlalu aku akhirnya berhasil juga. Sekarang aku telah menjadi seorang penulis cerita anak dan ghostwriter. Bahkan salah satu karyaku memenangkan lomba penulisan cerita misteri di sebuah majalah anak yang   terkenal dan bergengsi tahun 2009.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar